Terbunuh sepinya malam terbangun oleh penatnya pagi
selalu merasa sendiri, di titik nadir.
Entah dimana kusimpan kenangan yang mendatangkan senyum
karena yang tersisa hanya bagian nadir.
Masih ada kalian, kalian yang membelai, kalian yang menusuk
beberapa dari kalian, bersamaku, membawaku ke bab yang nadir.
Kalian tidak pernah benar-benar membelai, tidak pernah
kalian membelai hanya untuk menemukan celah nadirku.
Aku merindukan kalian, bukan kalian, tapi kalian....
dan aku merindukan diriku sendiri, yang kini telah hanyur oleh nadir,
Kalian..
dimana ?
apakah di titik nadir bersamaku ?
atau diantara Nadirku dan Zenith ?
entahlah
Dengan nanar, aku masih bisa mendengar suara Tuhan
Suatu saat aku akan terbangun dengan pagi yang melebihi zenith,
pagi yang sangat jauh dari nadir,
pagi yang terang jauh dari tempat yang disebut dunia bahkan ketika itu datang aku akan menetaskan airmata karena takjub akan keindahan pagi itu..
pagi dimana bukan ayah atau ibu atau kalian yang disampingku, melainkan Tuhan..
pagi dimana aku akan lupa segala titik nadir yang pernah kukecap
pagi dimana semua telah selesai, dan harus dimulai lagi
pagi dimana aku menghembuskan nafas terakhirku..
pagi itu..aku mati.
LP
Zenith adalah titik di angkasa yang berada persis di atas pengamat. Posisi zenith di angkasa tergantung pada arah gaya gravitasi bumi di tempat pengamat berada. Jarak angular antara zenith ke celestial body disebut jarak zenith.
Nadir adalah lawan dari zenith, yaitu suatu titik di angkasa yang berada persis di bawah pengamat.
Selasa, 23 Desember 2014
Sabtu, 22 November 2014
Senyum
01.42
Beberapa
jam di setiap malam aku berusaha memejamkan mata berharap segera terlelap
melupakan semuanya mati untuk sesaat. Alam bawah sadar itu terasa sangat jauh
seperti rumah Tuhan..yang kita anggap sangat jauh, bahkan ketika hampir sampai.
Berbulan-bulan memikirkan “kematian”, apa ini bentuk keputusasaan ? apa ini
salah satu ujian ? atau aku sedang melupakan Tuhan ?
Setiap
manusia diciptakan bersamaan dengan berkat, jodoh, rejeki, cobaan dan
permasalahan hidup. Lalu bagaimana dengan manusia yang menganggap bahwa ia hanya
diberikan ribuan cobaan tanpa adanya jalan keluar ?
Aku
sadar kesedihan, kecemasan, kekawatiran
dan air mata setiap malam, aku sendiri yang menciptakannya aku sendiri yang
memilihnya. Meski terkadang manusia tidak menyadari bahwa ia telah mempersulit
hidupnya sendiri, ia telah menyia-nyiakan sisa nafasnya yang entah berapa detik
lagi bisa saja berhenti begitu saja, bahwa ia melupakan masih ada Tuhan yang
akan mengangkat kita dari segala penderitaan.
Memiliki
umur panjang mungkin hampir menjadi harapan setiap manusia, dan aku hampir
tidak mengharapkannya lagi. Merasa tidak berguna, merasa tidak dihargai lagi,
merasa sendiri tanpa orang yang berjalan disampingku, merasa kosong. Apa bedanya
dengan mati ?
Sekali
lagi, bukan karna siapapun..aku sendiri yang memilihnya, dan aku tidak pernah
menyesal. Karenanya aku menjadi lebih dan lebih dewasa, aku menjadi pribadi
yang kuat sampai penyakit hinggap ditubuhku dan menggerogoti..aku tetap
bertahan, karena kamu dan berkat dari Tuhan.
Kamu
yang aku sayang yang aku cinta sepenuh hati, yang aku jaga sekuat jiwa dan
ragaku, yang selalu aku lakukan apapun untuk kebahagiaanmu..terimakasih. Aku
masih ingin menjadi teman dalam suka dan dukamu, meski terkadang aku menjadi
sebab dari airmatamu. Aku masih ingin menemanimu dalam setiap hembus nafasmu
meski aku harus merasakan sesak yang teramat. Terimkasih telah menopang hidupku
didalam setiap keterpurukanku.
Aku
ingin bersamamu selamanya, apakah mungkin ? karena aku merasa memiliki semuanya saat
bersamamu. Mungkin aku sudah gila kita sudah gila dan kita tidak ingin tersadar
dari semua kegilaan ini. Aku mencintaimu bahkan belum pernah sedalam ini
sebelumnya. Kamu bisa menjadi apapun, siapapun, dimanapun kapanpun pelengkap
hidupku.
Maafkan
aku karena sering menahanmu ketika kamu sudah bisa melakukan yang seharusnya
kita lakukan dari dulu. Maafkan aku karena sering memintamu pergi meski aku
juga tidak akan pernah bisa jauh. Maafkan aku karena kedua hal itu belum bisa
aku pilih atau tidak akan pernah bisa. Aku tidak tau. Aku hanya ingin selalu
berusaha, berusaha agar kita akan selalu bahagia meski nantinya kita tidak akan
bersama.
Setiap
malam menjadi sangat mengerikan ketika kamu mengakhiri percakapan dengan sebuah
kemarahan, ketersinggungan dan bentakan. Aku rindu kamu yang dulu. Yang tidak
pernah memejamkan mata sebelum aku terlelap. Kamu selalu meninggalkan aku dalam
malam yang terasa hampa. Aku tidak ingin sedetikpun berpisah darimu, sungguh. Entah
mengapa.
Seringkali
aku menggerutu dalam doa “kenapa engkau
berikan cobaan semacam ini ya Tuhan, ini terlalu berat, aku tidak kuat”
Aku
ingin mati.
Aku
menyayangimu..kamu harus bahagia, meski tanpa aku :)
Semoga
Tuhan mendengar doaku.
Amin
Langganan:
Postingan (Atom)




